Robot, Masa Depan Pertanian Indonesia

Indonesia memiliki tantangan masa depan pertanian yang sangat kompleks. Mulai dari pembudidayaan, pengolahan pasca panen, hingga mekanisasi pertanian itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri, masa depan pertanian ditentukan juga oleh pemanfaatan teknologi-teknologi mutakhir.
Demikian yang terangkum dalam Seminar Nasional Robotika Pertanian dengan tema “Merintis, Membangun dan Mengembangkan Robotika Pertanian sebagai Instrumen Utama Pembangunan Ketahanan Pangan Nasional”. Seminar dilaksanakan di gedung Widyaloka UB, Rabu (16/12).
Seminar menghadirkan Dirjen Perlindungan Tanaman Pangan Ir. Atik Wasiyati; Pakar Robotika Pertanian UGM Dr.Ir.Lilik Sutiarso dan; Fernando Ardilla,SST dari PENS ITS.
Menurut Ir. Ati Wasiyati, teknologi pertanian kita masih cenderung berbasis produk primer. “Orientasi teknologinya lebih diarahkan pada industri hulu dan subsistem pertanian atau on farm”, tuturnya.
Menurtnya, Indonesia harus mengagendakan strategi peningkatan pemanfaatn teknologi yang bisa mendukunmg kemandirian pangan. Hal itu bisa dilakukan melalui spesifikasi sumber daya/produk, produktivitas dan kontinuitas, serta efisiensi proses produksi. “Untuk strateginya, misalnya dengan menetapkan kawasan peningkatan produk pertanian melalui industri pengolahan”, katanya.
Menurut Dr.Ir.Lilik Sutiarso, saat ini bidang bioteknologi, teknologi material, dan IT memberikan kontribusi secara signifikan dalam pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi. Penggunaan GPS, Sensor machine vision, penanganan data sampai pada perangkat DSS telah banyak diaplikasikan pada sistem mekanisasi pertanian, khususnya pada farm machinery system (autonomous and control system).
Peran penting teknologi robot dalam pertanian dilatar belakangi oleh banyak hal. “Antara lain aktivitas yang monoton, berbahaya, dan memerlukan banyak tenaga. Juga oleh kurangnya tenaga kerja di bidang pertanian”, ungkapnya. Selain kedua hal itu, permasalahan pada tingginya labor costs serta permintaan pasar terkait mutu produk juga menjadi pemicu digunakannya teknologi robot di dalam pertanian.
“Dengan penggunaan robot, diharapkan ada peningkatan efisiendi, efektivitas penggunaan sara produksi. Lebih akurat, minim human error dan kecelakaan kerja,” ujarnya. Baik Ati maupun Lilik sepakat, mengingat banyaknya peran yang bisa dilakukan oleh teknologi robot dalam pertanian, universitas sebagai pusat ilmu pengetahuan harus mampu mengembangkan riset-riset terkait pengembangan teknologi robotika ini.[fjr]

Kebijakan dan Arah Pembangunan Pertanian 2010-2014

Enam komoditas utama yaitu padi, jagung, kedelai, gula, daging sapi dan susu ditargetkan akan meningkat capaian produksinya hingga 2014 mendatang. Target capaian tertinggi adalah padi yang mencapai 75.7 juta ton disusul jagung dan kedelai berturut-turut 29 juta ton dan 2.7 juta ton. Hal ini disampaikan Dr. Syukur Iswantoro (Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Pemberdayaan Masyarakat) dalam seminar nasional “Membangun Entrepreneurship di Bidang Agribisnis” yang diselenggarakan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP-UB), Sabtu (21/11). Disampaikan pula, untuk beberapa indikator makro seperti investasi dalam negeri, sampai 2014 mendatang pemerintah mentargetkan hingga 9 Milyar rupiah sementara dari pihak asing sebesar 3.1 milyar dollar. Indikator makro lain yaitu pertumbuhan PDB pertanian sempit ditargetkan mencapai 3.69%. Secara rerata penyerapan tenaga kerja dunia pertanian hingga 2014 ditargetkan mencapai 43.5 juta orang dengan penambahan sekitar satu juta lapangan pekerjaan. Pada kurun waktu lima tahun mendatang, Departemen Pertanian dipaparkannya memiliki 12 program utama diantaranya peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman pangan untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan disamping peningkatan produksi tanaman hortikultura dan perkebunan secara berkelanjutan. Guna mewujudkannya, permasalahan utama yang kini sedang dihadapi dunia pertanian disampaikan Syukur adalah meningkatnya kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global disamping ketersediaan infrastruktur, sarana prasarana, lahan dan air. Untuk itu pihaknya memiliki target empat sukses pertanian yang meliputi swasembada berkelanjutan, diversifikasi pangan, nilai tambah, daya saing dan ekspor serta peningkatan kesejahteraan petani. Strategi yang digunakan Departemen Pertanian untuk mewujudkannya dikenal dengan tujuh gema revitalisasi yang meliputi revitalisasi lahan, perbenihan dan perbibitan, infrastruktur dan sarana, SDM, pembiayaan petani, kelembagaan petani serta teknologi dan industri hilir.
Keynote speech lainnya yang berjudul “Sinergitas Litbang Pertanian dengan Pendidikan Pertanian dalam Pembangunan Pertanian Nasional” disampaikan oleh Kepala Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Prof. Dr. Ir. Tahlim Sudaryanto. Dalam seminar nasional ini, peserta dibagi dalam dua komisi yaitu “Kebijakan dan Program Pengembangan Pertanian” serta “Implementasi dan Pengembangan Agribisnis”.
Temu Alumni
Seminar nasional ini kemudian dilanjutkan dengan temu alumni di Gazebo FP-UB yang merupakan rangkaian dies natalies FP-UB ke-49. Para alumni kemudian membentuk sebuah forum guna mempererat tali silaturrahim diantara mereka. [nok]

Kenapa Gempa Bumi Merusak Properti dan Infrastruktur

Gempa bumi beruntun sedang melanda Indonesia. Gempa bumi dengan skala di atas 5 SR sepertinya berlompatan di bumi Indonesia, bagaikan diacak. Mulai dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Papua dan disepanjang daerah yang dilewati jalur penunjaman, seakan-akan berjanji untuk muncul satu demi satu.
Daerah zone satu, yaitu Selatan Sumatera dan selatan Jawa bagian Barat dan Tengah dalam waktu 3 bulan terakhir ini sepertinya sudah berjanji untuk bergantian muncul gempabumi. Tercatat pada bulan September awal terjadi gempa di Jawa Barat, September akhir dan Oktober awal di Sumatra dan pertengahan Oktober, muncul juga gempabumi di sekitar selat Sunda. Kenapa ada suatu gempa bumi yang merusak dan ada pula yang tidak? Dan kenapa juga suatu gempa bumi walaupun skala energinya sama, namun tingkat merusaknya berbeda? Untuk mengetahui hal ini, maka perlu diketahui sejak awal, bahwa tingkat merusak tidaknya gempabumi tergantung dari posisi hypocenter (letak sumber gempa). Hypocencer merupakan posisi dari kedalaman dan lintang, bujur dari sumber gempa. Sedangkan ketika sumber gempa itu diproyeksikan ke permukaan, maka disebut Epicenter. Hal yang lebih penting lagi adalah jenis gelombang gempa yang melanda suatu daerah.
Kalau dirunut kebelakang, saat terjadi gempabumi Jogyakarta (27 Mei 2006 yang lalu), kerusakan terparah terjadi kearah Timur Laut dari sumber gempa, yaitu Bantul, Klaten dan terusannya. Memang bidang patahan yang tergeser ada pada daerah ini. Pergeseran hanyalah sekitar maksimum 10 cm saja. Gempa Tasikmalaya, Padang, jambi dan yang terakhir adalah Ujung Kulon juga terjadi kerusakan properti dan infrastruktur yang tidak sedikit. Namun, biasanya yang rusak adalah daerah dalam satu garis tertentu saja. Sehingga perlu diketahui, apa penyebab daerah yang mengalami rusak parah ketika gempa bumi terjadi?
Gelombang mekanik
Pada saat terjadi gempa bumi, maka titik atau daerah dimana menjadi sumber gempa akan melepaskan energi. Energi dari sumber gempa ini akan menjadi gelombang mekanik. Gelombang mekanik adalah gelombang yang menjalar karena adanya medium yang mempunyai sifat kekenyalan/elastisitas walupun tidak sempurna, seperti bumi itu sendiri. Gelombang mekanik dibagi menjadi dua macam, yaitu gelombang badan dan gelombang permukaan.
Gelombang badan sendiri juga masih dibagi menjadi dua, yaitu gelombang tekanan dan gelombang geser. Gelombang tekanan prinsip menjalarnya adalah karena adanya merenggang dan merapatnya material di bumi, sedangkan gelombang geser sifat menjalarnya seperti menjalarnya gelombang tali yang digoyangkan. Kedua macam gelombang inilah yang digunakan untuk menentukan posisi sumber gempa (hypocenter). Juga hanya kedua macam gelombang ini yang bisa menembus dalam bumi, sehingga gempabumi yang terjadi di Indonesia bisa terekam oleh seismometer di Amerika, padahal posisi Amerika adalah disebalik Indonesia, dimana kalau Indonesia pagi jam 5, maka di Amerika sore jam 5. Gelombang ini menjalar ke segala arah dengan jangkauan yang hampir sama.
Gelombang yang selanjutnya adalah gelombang permukaan. Gelombang ini hanya bisa menjalar di permukaan bumi dan jangkauannya hanyalah kecil. Gelombang permukaan ada dua, yaitu gelombang Rayleigh dan gelombang Love, sesuai dengan nama orang yang meneliti dan menemukannya. Gelombang ini dalam penjalarannya bersifat menggulung daerah yang dilewati dan merusak serta dalam bentuk suatu garis tertentu.
Ketika orang merasakan adanya gempa, cerita masing-masing orang akan berbeda. Ada yang merasa dilontarkan ke atas, digoyang kiri kanan, dan diputar-putar seperti petani didesa membersihkan padi dengan tampah. Juga kondisi properti dan infrastruktur yang rusakpun berbeda. Semestinya, kalau penjalaran gelombang itu menyebar kesegala arah dengan kecepatan yang sama, maka radius kerusakan haruslah sesuai dengan jarak dari pusat gempa. Ternyata ini tidaklah sama. Daerah tertentu mengalami kerusakan parah, sedangkan daerah lain walaupun letaknya lebih dekat dengan sumber gempa, kerusakannya tidaklah separah dari daerah tertentu di atas. Sebagai contoh, pernah terjadi gempabumi di luar Peru. Ada satu blok hunian yang rusak parah, sedangkan blok didekatnya, dengan jarak hanya puluhan meter, tidak rusak, dan bahkan hunian tersebut utuh.
Dalam hal ini, gelombang permukaanlah yang paling berperan dalam merusak suatu properti dan infrastruktur jika terjadi gempa. Karena sifatnya yang menggulung, dan menjalar dipermukaan bumi, maka sangat dimungkinkan hanya daerah tertentu saja biasanya yang mengalami kerusakan parah, sedangkan daerah lainnya walupun dekat dengan sumber gempa, tingkat kerusakannya tidak terlalu parah, mengingat bahwa perambatan gelombang permukaan (gelombang Rayleigh) bersifat garis. Gelombang Rayleigh ini kecepatan menjalarnya relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan gelombang badan, bisa sampai setengahnya. Jika gelombang badan menjalar dengan maksimum kecepatan 6 km/detik, maka gelombang permukaan hanyalah sekitar 3 km/detik. Namun kecepatan inipun masih sangat jauh lebih cepat dari kesadaran manusia. Kalau demikian apa selanjutnya yang perlu dipersiapkan, khususnya pada daerah yang potensi terjadi gempa, seperti juga daerah jawa Timur?
Pemerintah hendaknya sudah mulai mensosialisasikan model banguanan yang sesuai dengan bangunan di daerah gempa. Bangunan yang mampu meredam getaran dan gelombang dari tanah adalah yang paling baik. Tingkat kekeyalan/elastisitas dari bangunan tersebut didesain sedemikian rupa sehingga ketika ada goncangan dan ayunan akibat khususnya gelombang Rayleigh, bisa mengikuti ayunan yang dalam waktu hitungan detik sampai menit masih bisa menahan goyangan tersebut. Dengan telah disosialisasikannya model bangunan tersebut, maka diharapkan tingkat kerusakan properti dan infrastruktur bisa diperkecil. [as/malangpost]
—-
Oleh Adi Susilo (Koordinator Pusat Penelitian Kebumian dan Mitigasi Bencana Universitas Brawijaya dan Pengurus Pusat Himpunan Ahli Geofisika Indonesia); dimuat di Malang Post

Dosen UB Ikuti Autumn School di Jerman

Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr. dari Fakultas Teknologi Pertanian ikuti International Autumn School dengan tajuk “Post Harvest Technology and Renewable Energy” di Goettingen Jerman. Acara ini diselenggarakan di Universitas George-August Goettingen Jerman, selama kurang lebih 2 (dua) minggu (1-12/11). Penyandang dana kegiatan tersebut adalah Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD) Jerman. Vice President Universitas George-August Goettingen membuka acara ini dengan mengundang seluruh peserta pada acara resepsi untuk Scientist dan Scholar Internasional Programme Post-Doctor.
Berbagai acara terangkum dalam kegiatan International Autumn School ini diantaranya seminar serta kunjungan ke berbagai tempat terkemuka di Jerman. Kepada PRASETYA Online, Bambang Susilo menyampaikan bahwa dalam kegiatan seminar setiap peserta diwajibkan mempresentasikan karya ilmiah tentang Teknologi Pasca Panen atau Energi Terbarukan. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan makalah dengan judul “Kinetic Model of Palm Oil Transesterification to Biodiesel with Ultrasound”.
Seminar ini diikuti sekitar 23 orang yang berasal dari Indonesia, Nigeria, Sudan, Nicaragua, Ethiopia, Brazilia, Chili dan Jerman.
Kunjungan
Dalam kunjunga, peserta diajak untuk melihat langsung aktivitas di Desa Mandiri Energi Juehnde, serta beberapa Perusahaan dan Balai Penelitian Pasca Panen dan Energi Terbarukan. Selain itu, kunjungan juga dilakukan di perusahaan Agroindustri, Proyek Percontohan energi terbarukan, Pembangkit Listrik Tenaga Biogas, serta Laboratorium di lingkungan Departemen Keteknikan Pertanian dan Departemen Kualitas Produk Pertanian Universitas George-August Goettingen.
Selain di kota Goettingen, acara juga dilaksanakan di kota Clausthal dan Hannover. Di Clausthal peserta diberi kesempatan untuk berdiskusi tentang Teknik Lingkungan dan Energi bersama Presiden Universitas Clausthal serta mengunjungi laboratorium Teknik Sensor. Sementara di kota Hannover, kunjungan dipusatkan di pameran “Agritechnika”, sebuah pameran terbesar di dunia tentang mesin agrokomplek yang meliputi mesin pra panen dan mesin pengolahan bidang pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan.[bs/fjr]

UB Berangkatkan Mahasiswa Double Degree

Universitas Brawijaya (UB) memberangkatkan 50 mahasiswa double degree ke beberapa perguruan tinggi di Jepang, Thailand dan Taiwan. Di gedung Rektorat lantai 6 (enam), pada Selasa (20/10) mereka dilepas oleh Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito. Turut menyaksikan pelepasan ini, Prof. Dr. Ir. Bambang Suharto, MS (Pembantu Rektor I Bidang Akademik), Prof. Dr. Ir. Harijanto, MS (Dekan FTP UB), Dr. Andy Fefta Wijaya (KPS Administrasi Publik), Prof. Ir. Yenny Risjani, DEA, PhD (KPS Bioteknologi Perikanan dan Kelautan) serta seluruh pengelola Double Degree UB. Di 3 (tiga) negara tersebut, mereka akan mengikuti perkuliahan dan penelitian dalam bidang Bioteknologi Tanaman, Bioteknologi Agroindustri, Bioteknologi Perikanan dan Kelautan, Teknik Sipil, Teknik Elektro, Biosensor dan Administrasi Publik. Dari 50 mahasiswa ini, 17 diantaranya mendapatkan beasiswa dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) untuk mengambil program administrasi publik di Jepang. Sementara sisanya, beasiswa studi diperoleh dari beasiswa unggulan Dikti.
Berikut adalah perguruan tinggi dan rincian mahasiswa program double degree yang diberangkatkan pada masing-masing negara meliputi: Jepang (20 orang): Kumamoto University (3 orang), Ritsumeikan University (2 orang), Takushoku University (3 orang), Keio University (2 orang), Grips University (3 orang), Ritsumeikan Asia Pacific University (4 orang), dan Tohuku University (3 orang); Taiwan (8 orang): National Central University (4 orang), Sun Yat Shen University (4 orang); Thailand: King Mongkut’s University of Technology Thonburi (16 orang) dan Bhurapa University (6 orang). Kepada PRASETYA Online, Prof. Liliek menjelaskan bahwa 50 orang mahasiswa ini merupakan sebagian dari mahasiswa double degree angkatan 2008/2009 yang keseluruhannya berjumlah 90 orang, dimana sisanya menempuh pendidikan pada perguruan tinggi di Indonesia. Termasuk didalamnya, ditambahkan Prof. Liliek, adalah 4 (empat) orang dosen UB yang mendapatkan beasiswa dari UB.
Mahasiswa Berprestasi
Program double degree ini, diterangkan Prof. Liliek telah dimulai dari angkatan 2006/2007 sejumlah 76 orang, kemudian dilanjutkan angkatan 2007/2008, 112 orang mahasiswa. Dari mahasiswa yang dikirim tersebut, beberapa diantaranya telah berhasil meraih penghargaan. Untuk angkatan 2006/2007 misalnya, 5 (lima) orang diantaranya berhasil meraih prestasi. Mereka adalah Rani Sasmita (lulusan terbaik di Thailand bidang Aquatic Sciences), Dyah Kinasih Wuragil (oral presentasi terbaik pada Pure and Applied Chemistry International Conference, Naresuan University, Pitsanulok, Thailand), Akbar Ciptanto (Oral Presentasi Terbaik pada International Conference of Thailand Society of Biotechnology, di Mahasarakam, Thailand), Bram Hadi Wijaya (Presentasi Poster Terbaik pada International Conference of Sustainable Development to Save the Earth, Bangkok, Thailand). Selain itu, ditambahkan Prof. Liliek, sebagian besar mahasiswa yang berada di Thailand dan Taiwan telah dipekerjakan sebagai research assistant di laboratorium yang mereka ikuti. “Hal ini sangat bagus untuk menambah pengalaman mahasiswa disamping kesempatan untuk mempelajari teknik penelitian di laboratoriumnya”, ujar Prof. Liliek. Selain itu, menurutnya mereka juga mendapatkan tambahan penghasilan yang cukup untuk biaya makan di negara tempatnya berada. Bahkan, menurut Guru Besar Fakultas Pertanian ini, ada beberapa mahasiswa yang melapor kepada pengelola Double Degree bahwa mereka telah ditawari untuk langsung melanjutkan program doktor dengan menggunakan beasiswa dari perguruan tinggi tempatnya studi. Seperti halnya 3 (tiga) orang mahasiswa program magister biosensor yang mengikuti double degree di Kumamoto University dengan menggunakan beasiswa dari salah satu perguruan tinggi ternama di Jepang tersebut. [nok]

Memahami Gempa Bumi di Jawa Timur

Setelah terjadi dua gempa besar berturut-turut yang merusak Sumatera Barat dan Jambi, masyarakat disibukkan oleh adanya isu-isu gempa lagi. Bahkan, isu-isu itu mengarah pada waktu dan posisi terjadinya gempa. Seperti telah banyak diulas, sampai saat ini belum ada ilmu yang mengatakan atau memprediksi waktu pasti terjadinya gempa. Apalagi posisi pasti, itu masih jauh dari ilmu yang dimiliki manusia saat ini.
Masyarakat Jatim beberapa hari terakhir sering menerima pesan singkat (SMS) ataupun pemberitaan lain yang mangatakan akan terjadi gempa pada jam tertentu. Beberapa sekolah bahkan memulangkan murid-muridnya dan banyak orangtua berjaga sampai larut malam menanti datangnya gempa. Pertanyaan di kantor BMKG yang mencatat rekaman gempa terus terjadi, memastikan apakah memang benar akan terjadi gempa.
Secara umum gempa bumi diakibatkan dua sumber, yaitu vulkanik dan tektonik. Gempa bumi vulkanik diakibatkan letusan gunung api, sedangkan sumber gempa vulkanik juga ada dua macam: shock dan tremor. Shock merupakan sumber gempa akibat letusan, yang bisa berasal di dalam dapur magma atau terlontarnya magma keluar dari tubuh gunung. Sumber seperti ini bisa dikatakan sumber berbentuk titik.
Tremor adalah suatu getaran yang dicatat alat perekam (seismometer) di tubuh gunung karena proses merambatnya magma ke permukaan yang menggetarkan dinding-dinding saluran magma (conduit). Sumber semacam ini dikatakan sumber berupa garis. Gempa bumi vulkanik akan relatif berbahaya terhadap masyarakat di sekitar gunung api, tetapi tidak untuk yang jauh.
Gempa bumi akibat proses tektonik juga dibedakan oleh dua sumber. Pertama, jalur penunjaman (subduction zone) yang berada sekitar 200 kilometer di sebelah selatan pulau Jawa untuk daerah Jawa. Gempa bumi akibat proses ini kebanyakan terjadi di laut sehingga bisa tidaknya dirasakan manusia di daratan dan tergantung pada besar atau kecilnya energi yang dikeluarkan. Sumber kedua, patahan lokal dan regional yang bisa terjadi di laut dan darat. Gempa bumi akibat patahan inilah yang justru berbahaya. Patahan yang tadinya tampak tidak aktif tiba-tiba bisa aktif atau bisa juga sebetulnya patahan tersebut aktif tetapi kita tidak merasakannya karena pola pergeserannya dalam orde milimeter atau bahkan mikrometer setiap tahun. Memiliki peta
Sejarah kegempaan yang tercatat dan pernah terjadi di Jatim dimulai sebuah gempa besar yang terjadi pada 22 Maret 1836 di sekitar Mojokerto dan Jombang, yang mengakibatkan kerusakan banyak bangunan dan korban jiwa. Gempa ini berkekuatan VII-VIII skala Mercalli (SM). Skala Mercalli adalah skala lain dari gempa yang didasarkan kekuatan goyangan pada barang-barang di dalam rumah, yang mempunyai skala I sampai XII. Skala I, tidak ada orang yang merasakannya. Skala VI, orang sudah kesulitan untuk berjalan dan barang-barang di dinding mulai berjatuhan. Skala XII, semua obyek hancur.
Selanjutnya pada 15 Agustus 1896 terjadi gempa VII SM yang dirasakan di daerah Wlingi dan pada 20 Agustus 1896 gempa VII SM dirasakan di Tulungagung. Kedua gempa menimbulkan korban yang cukup banyak. Pada 31 Agustus 1915 terjadi gempa VIII SM di Madiun dengan korban bangunan dan manusia cukup banyak. Masih banyak gempa terjadi setelah itu.
Pada situasi posisi gempa telah diketahui secara lebih pasti, yaitu mulai tahun 1937, tercatat bahwa ada puluhan gempa besar telah terjadi di Jatim dengan skala di atas VI SM. Jatim bagian selatan, Banyuwangi, Pasuruan, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Ponorogo, tercatat beberapa kali mengalami gempa besar. Di Jatim bagian utara, antara lain Gresik, Sedayu, dan Mojokerto, juga pernah terjadi gempa bumi besar walupun frekuensinya kecil. Gempa bumi berskala lebih kecil terjadi ratusan kali di seluruh Jatim mulai periode tahun 1950-an, termasuk di Madura, selat Madura, dan wilayah Tapal Kuda.
Seperti telah juga sering disosialisasikan, gempa bumi, khususnya tektonik, diakibatkan terlepasnya energi dari patahan di suatu daerah. Kita justru seharusnya merasa senang apabila sering merasakan adanya gempa-gempa kecil, yang berarti tenaga akibat gesekan pada patahan tersebut telah dilepaskan. Hal yang justru patut dikhawatirkan adalah kurang atau tidak adanya gempa-gempa kecil di daerah yang semestinya dan biasanya ada gempa. Ini berarti terjadi tumpukan energi yang lambat laun tambah besar. Apabila tumpukan energi itu tidak bisa ditahan lagi oleh elastisitas batuan di daerah yang terdapat patahan tersebut, gempa bumi besar tinggal menunggu waktu.
Dari tulisan penulis yang dimuat di Kompas pada 25 Juli 2006, sifat periodisitas dari gempa bumi di Jatim antara 20 tahun sampai 30 tahun. Tercatat pada 19 Pebruari 1967 terjadi gempa besar di sekitar Dampit, Malang, berkekuatan VIII sampai IX SM dan 6,2 skala Richter (setara dengan 4 juta ton TNT, senjata nuklir kecil hanyalah setara 1.000 ton TNT) dengan korban bangunan dan jiwa cukup banyak. Pada 28 September 1998 juga terjadi gempa cukup besar di daerah Malang dan Blitar selatan. Maka, masyarakat Jatim memang patut untuk waspada.
Terdapat suatu metode yang sekiranya perlu dilakukan pemerintah bekerja sama dengan organisasi profesi ataupun akademisi yang memahami masalah ini. Pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota sudah waktunya meneliti dan memiliki peta micro zonation, khususnya patahan di suatu daerah yang kemungkinan akan digunakan sebagai tempat tinggal dan prasarana lain. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi risiko bencana yang mungkin terjadi, baik akibat gempa bumi maupun longsor. Dengan telah diketahuinya alur patahan tersebut, pemerintah bisa mengeluarkan dan menolak izin untuk suatu aktivitas. Dengan telah adanya rambu-rambu tersebut, tanggung jawab pemerintah semakin berkurang. [AS, Kompas]

Pembekalan PKM dan Pembukaan Student Day MABA FTP 2009

Universitas Brawijaya berhasil meraih juara umum PIMNAS XXII, keberhasilan mempertahankan gelar tersebut merupakan hasil jerih payah dari seluruh kontingen UB. Meski FTP tidak berhasil menyumbang medali pada PIMNAS yang diadakan UB juli lalu, Namun bukan berarti FTP dipandang sebelah mata. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kontingen dari FTP mengikuti PIMNAS serta prestasi-prestasi yang telah diraihnya pada PIMNAS sebelumnya. Dalam rangka meningkatkan prestasi tersebut, FTP melalui LKM penalaran yaitu ARSC mengadakan pembekalan PKM yang diadakan di PPI tanggal 5 September 2009. Pembantu Dekan III Dr.Ir Imam Santoso, MS dalam sambutannya menekankan pada MABA FTP khususnya untuk ikut andil pada PKM kali ini. Pengalaman jam terbang yang kurang dari MABA mengenai PKM bisa dibantu dengan cara bekerja sama dengan kakak tingkat diatasnya. Materi pembekalan PKM-P dan PKM-T disampaikan oleh Dr.Ir. Bambang Dwi Argo, DEA, dosen keteknikan pertanian ini menyampaikan kisi-kisi serta gambaran mengenai konsepan yang benar dalam membuat proposal PKM-P dan PKM-T. Dilanjutkan materi selanjutnya yaitu dari Dr. Ir. Elok Zubaidah… mengenai PKM M. Sedangkan pembagian pengalaman dari mahasiswa yang didanai PKM lalu lolos PIMNAS disampaikan oleh Mimin. Dan terakhir penyampaian PKM-W disampaikan langsung oleh Dr. Ir. Imam Santoso, MS. Disela-sela kegiatan pembekalan nurul selaku ketua ARSC juga menyampaikan agenda tema Student Day dari masing-masing LKM yang ada di FTP seperti LPM TECHNO, UKM SENI, ESP, DPM-MPM, Unit Kerohanian, AS dan BEM. Masing masing LKM akan diberikan waktu pada student day untuk menampilkan kegiatan-kegiatan guna mengenalkan LKM lebih dekat kepada MABA, agar nantinya regenerasi kepengurusan dapat berjalan dengan baik.

Ali

Rapat Besar Ke dua LPM TECHNO periode 2009-2010

Rapat Besar Pengurus LPM TECHNO yang ke dua ini tidak diikuti keseluruhan dari pengurus 2009-2010, hal ini tampak berbeda jika melihat rapat besar perdana yang diadakan 2 bulan lalu yang diikuti hampir seluruh pengurus. Rapat yang dibuka langsung oleh Ketum TECHNO ini diawali dengan pembacaan doa bersama. Kemudian sesuai yang diagendakan sebelumnya yaitu pembahasan program kerja yang akan dilaksanakan dari beberapa departemen dan non departemen LPM TECHNO 1 bulan kedepan serta informasi lainnya terkait kepengurusan. Bertempat di Sekber Lantai 3 FTP, penyampaian proker dimulai berurutan dari PSDM, Sekum, Bendahara, Pimred, Dadoktek, Iklan dan Kewirausahaan dan terakhir Litbang. Hal ini dilakukan agar masing-masing pengurus mengetahui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan LPM TECHNO dan sebagai ajang pengumpulan pengurus guna memperkuat koordinasi antar pengurus kedepannya. Kebiasaan seperti kepengurusan-kepengurusan sebelumnya yaitu minimnya SDM saat majalah telah terbit dicoba diminimalisir dengan rapat besar ini. Suasana rapat yang berjalan dengan santai ini diharapkan dapat meningkatkan semangat pengurus dalam melaksanakan amanahnya. Rapat ini pun ditutup 17.35 dan dilanjutkan buka puasa bersama.
(ali)

PENERIMAAN MABA FTP 2009

Pada tahun 2009 Fakultas Teknologi Pertanian menerima Mahasiswa Baru (MABA) sebanyak 370 orang. Ada banyak jalur masuk yang dibuka untuk menjaring MABA FTP, jalur-jalur tersebut berupa PSB, PSBI, SNMPTN, SAP, SPKI, SPKS, SPKSI, SPMK dan SPMK. Jalur-jalur tersebut memiliki porsi yang berbeda-beda serta pelaksanaannaya yang tidak bersamaan. Dari hasil penjaringan tersebut maka didapatkan MABA 2009 Dengan perincian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) sebanyak 174 orang, Jurusan Teknik Pertanian (TEP) sebanyak 75 orang dan Jurusan Teknologi Industri Pertanian (TIP) sebanyak 121. Jika dibandingkan dengan jumlah penerimaan MABA sebelumnya yang mencapai lebih dari 400 orang, tahun ini jumlah MABA yang diterima pada tahun ini jumlahnya lebih sedikit. Ada banyak hal yang mempengaruhi hal ini, salah satu hal klasik adalah tingginya pungutan uang pangkal dan uang yang dikeluarkan untuk daftar sebagai MABA FTP yang nilainya mencapai lebih dari10 juta. Perincian lengkap ada pada data di bawah ini :
Jalur Masuk :
• PSB Teknologi Hasil Pertanian diterima = 70 orang
PSB Teknik Pertanian diterima = 11 orang
PSB Teknologi Industri Pertanian diterima = 39 orang
• PSBI Teknologi Hasil Pertanian diterima = 3 orang
PSBI Teknik Pertanian diterima = – orang
PSBI Teknologi Industri Pertanian diterima = – orang
• SNMPTN Teknologi Hasil Pertanian diterima = 46 orang
SNMPTN Teknik Pertanian diterima = 44 orang
SNMPTN Teknologi Industri Pertanian diterima = 47 orang
• SAP Teknologi Hasil Pertanian diterima = 4 orang
SAP Teknik Pertanian diterima = – orang
SAP Teknologi Industri Pertanian diterima = 5 orang
• SPKI Teknologi Hasil Pertanian diterima = 2 orang
SPKI Teknik Pertanian diterima = – orang
SPKI Teknologi Industri Pertanian diterima = – orang
• SPKS Teknologi Hasil Pertanian diterima = 24 orang
SPKS Teknik Pertanian diterima = – orang
SPKS Teknologi Industri Pertanian diterima = – orang
• SPKSI Teknologi Hasil Pertanian diterima = 1 orang
SPKSI Teknik Pertanian diterima = – orang
SPKSI Teknologi Industri Pertanian diterima = – orang
• SPMK Teknologi Hasil Pertanian diterima = 24 orang
SPMK Teknik Pertanian diterima = 7 orang
SPMK Teknologi Industri Pertanian diterima = 15 orang
JADI TOTAL PENERIMAAN
Teknologi Hasil Pertanian = 127orang
Teknik Pertanian = 75 orang
Teknologi Industri Pertanian = 121orang

Tips Menjadi Wartawan yang Baik dan Benar

1. Hubungan dengan narasumber harus dikontrol agar tidak terlalu dekat dan tidak terlalu renggang.

Ini mengarahkan kita menjadi independen. Juga agar tidak diperalat. Menjadi wartawan bukan untuk mencari kawan, juga tidak mencari lawan — tapi mencari berita.

Maka kalau ada wartawan [yang merasa] senior menegur anda, “Sudahlah, ngapain nulis kasus Pak Walikota, kita wartawan ini kan harus menjaga hubungan baik supaya banyak kawan,” jangan terpengaruh. Itu ajaran sesat. Tidak pernah ada dalam kode etik wartawan Indonesia, atau dalam kode etik wartawan di negara hantu belau mana pun, atau dalam mata kuliah jurnalistik, yang menyebutkan profesi wartawan adalah untuk mencari kawan sebanyak-banyaknya. Ingat: wartawan mencari berita — bukan mencari kawan, juga bukan lawan.

Dalam istilahku, setelah perenungan dan pergumulan batin selama 12 tahun bekerja sebagai jurnalis: “Sesungguhnya wartawan adalah pertapa yang hebat; yang sanggup kesepian di tengah keramaian; karena dia lebih peduli pada APA daripada SIAPA.”

Waktu pilkada Tobasa dua tahun lalu ada tiga dari lima calon bupati yang memintaku menjadi tim sukses. Dua calon menyampaikannya secara langsung dan satu lagi lewat orang terdekatnya. Jabatanku semacam kepala publikasi. Gaji dan fasilitas disediakan. Tapi tidak satu pun yang aku iyakan. Jawabanku untuk mereka sama: “Aku akan tulis kegiatan anda. Kalau mau visi-misi, itu iklan. Kalau mau gratis, lakukan atau ucapkan sesuatu yang menarik dan punya nilai berita.”

Sebagai wartawan, lebih bagus jika anda tidak punya profesi lain. Hindari menjadi pengurus parpol, LSM, apalagi pemborong. “Semakin sedikit predikat yang disandang, semakin baik seorang wartawan menulis,” ujar Katharine Graham, pemilik Washington Post. “Wartawan ya wartawan. Titik,” kata Bambang Soed dari Tempo suatu ketika kepadaku di Medan.

2. Cara terbaik menjadi penulis yang baik adalah: mulai dulu menjadi pembaca yang baik. Usahakan menulis feature setidaknya sekali dua minggu .

Wartawan yang bisa menulis feature sudah pasti “sempurna” menulis berita biasa — yang berpola piramida terbalik. Sebaliknya belum tentu. Berita politik atau berita bisnis tidak dibaca semua orang. Tapi feature, iya. Semisal tulisan kaki halaman satu koran-koran milik Jawa Pos Grup yang terbit setiap hari; semua kalangan pembaca bisa menyukainya.

3. Berita bukan cuma mengenai pejabat, tapi kisah rakyat kecil.

Anda mungkin pernah membaca beberapa tahun lalu sebuah berita feature di halaman depan Kompas. Bukan mengenai Presiden yang bermain dengan cucunya; tapi tentang seorang buruh pabrik sandal yang diadukan ke polisi dengan tuduhan mencuri sepasang sandal. Padahal dia cuma memakai sebentar sandal itu ke mushola untuk sembahyang.

Bayangkan, berita sepele itu muncul di halaman depan koran sebesar Kompas. Dan inilah kelemahan banyak koran daerah: sering menganggap hanya berita tentang gubernur atau bupatilah yang layak di halaman depan; padahal justru kisah-kisah humanis tentang orang-orang kecil itulah yang idealnya diangkat pers ke permukaan. Apakah itu karena wong cilik tak mampu kasih amplop kepada wartawan seperti halnya amplop temu pers pejabat? Tak usah jawab; tersenyum sajalah.

4. Jurnalisme adalah pekerjaan orang-orang kreatif. Anda tidak kreatif? Bulan Juli nanti ada 300 ribu lowongan kerja baru; melamarlah jadi CPNS.

Bagi penulis dan jurnalis, menemukan ide-ide, apalagi orisinal, bagai menemukan harta karun. Perhatikan lingkungan; jangan cuma lihat. Simak pembicaraan orang; jangan hanya dengar. Berpikir kreatif kulakukan dengan berkhayal sebelum tidur di tengah malam; atau ketika jongkok di toilet sambil mengepulkan asap rokok. Bila ide muncul, langsung kucatat di kertas atau laptop.

5. Sebisa mungkin jangan kutip jargon dan retorika pejabat.

Itu gaya pers era Soeharto. Pakai kata khusus; bukan kata umum. Hindari repetisi dan kata-kata berkabut.

Tulislah “Lima penjambret dompet ditangkap dalam perayaan Natal dan sudah dimasukkan ke sel Poltabes Siantar.” Tapi jangan tulis “Sejumlah kriminal diamankan aparat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena melakukan tindak pidana dalam perayaan hari raya Kristen yang suci dan khusyuk.” Kalimat seperti ini kutemukan tiap hari di koran daerah, dan itu membuatku tersenyum geli.

Tak ada salahnya sesekali bereksperimen dengan kosa-kata dan frasa baru. Itu membuat karya anda senantiasa segar dan tidak membosankan. Jangan pernah berpikir akan dipuji sebagai wartawan hebat karena anda menulis istilah-istilah sulit, berbahasa asing, dan ilmiah. Bila anda gemar menyelipkan kata-kata ilmiah pada setiap kalimat dan alinea, cobalah menulis buku pelajaran atau jadi dosen — anda sudah kesasar berprofesi sebagai wartawan.

6. Semakin jarang mengutip sumber anonim, semakin baik.

Semakin berani seorang sumber disebutkan identitasnya, semakin kecil kemungkinan ia berbohong. Aku punya tips pribadi untuk ini. Jika aku mulai curiga si narasumber berbohong, aku langsung mengeluarkan alat perekam atau kamera. Jika memang sedang berbohong, biasanya dia menolak untuk direkam atau difoto, lalu berhenti mengoceh.

7. Wartawan harus berkarakter.

Jangan jadi wartawan kebanyakan. Itu yang selalu kuingat dari Pemred Radar Medan, Choking Susilo Sakeh, saat menarikku dari daerah menjadi redaktur. Maka anda harus jadi wartawan berkarakter. Yang kumaksudkan adalah karakter pada tulisan; bukan penampilan diri, apalagi kalau harus menggondrongkan rambut dan memakai sandal jepit ketika meliput.

Jadikanlah ruang redaksi sebagai tempat bekerja sekaligus belajar. Buatlah pembaca membolak-balik koran hanya untuk mencari tulisan anda. Pendiri Kompas Jacob Oetama mengatakan, setiap wartawan harus menetapkan etika dan standarnya sendiri-sendiri.

Pada 1999 atau 2000 sebuah feature-ku, dengan dua tokoh utama, dibuatkan nama oleh redaktur [waktu itu] Porman Wilson sebagai Jeges dan Roa. Tulisan itu menjadi lebih hidup. “Wajah Sang Bupati dijilat sampai berselemak …,” begitu penambahan dari Porman — yang juga seorang penyair — yang tulisannya memang khas dan berkarakter.

Enam-tujuh tahun terakhir aku sengaja tidak pernah lagi menulis deretan gelar kesarjanaan narasumber, kecuali untuk advertorial. Ini memang terlihat sepele. Tapi aku merasakan efek tak disengaja: aku makin independen dan bisa menjaga jarak dengan sumber-sumber.

Ceklah klipping koran di mana aku pernah bekerja; anda tidak akan menemukan beritaku di mana terdapat, misalnya, gelar St Drs Monang Sitorus SH MBA [Bupati Tobasa]. Aku hanya menulisnya Bupati Monang Sitorus. Koran lain? Wah, paling doyan. Bahkan di setiap alinea, deretan gelar itu diulang hingga ke akhir berita. Ada juga seorang wartawan “senior” di Balige, yang merangkap sebagai politisi, yang menulis kegiatan bupati atau kapolres dengan, “Beliau menjelaskan dengan senyum khasnya ….” Beliau? Presiden SBY saja tak ditulis beliau. Wartawan beginilah yang disebut berkarakter … penjilat.

Soal gelar narasumber tadi, tentu ada pengecualian. Misalnya berita seminar ilmu fisika, kita harus menulis gelar si pembicara agar publik tahu layak tidaknya dia bicara soal fisika. Atau dalam berita walikota yang baru dilantik, tentu bagus menjelaskan apa saja gelarnya untuk pertama kali.

Jangan sesekali menjiplak berita dari wartawan lain, apalagi menjiplak yang sudah terbit. Banyak wartawan tukang jiplak? Karena itulah karya-karyanya tidak berkarakter.

8. Belajarlah memotret.

Berita koran akan lebih menarik jika disertai foto. Meskipun tugas utama reporter adalah menulis, sebaiknya jangan malas memotret. Terkadang sebuah foto yang kuat lebih layak menghabiskan lima kolom koran dibanding berita.

Perhatikan foto-foto lepas di Kompas atau Koran Tempo. Sejak awal menjadi wartawan aku selalu membawa kamera ke mana-mana. Bertahun-tahun aku belajar fotografi dari majalah Foto Media bekas [harganya seribu rupiah] yang kupesankan dibeli teman akrabku, seorang mahasiswa, di simpang kampus USU setiap bulan.

Tiga hal pokok dalam foto jurnalistik adalah momen [waktu terbaik menjepret tombol pembuka rana], angle [posisi kamera], dan komposisi gambar. Foto jurnalistik yang baik tidak selalu harus fokus atau berwarna tajam dan indah. Yang utama ialah: foto itu menjelaskan sesuatu. Katakan seorang reporter menyertakan foto untuk berita rapat pemkab seperti ini: gambar seorang PNS memunguti kertas yang lepas dari tangannya dengan latar bupati sedang berbicara. Jika menjadi redaktur, aku akan memakai foto itu daripada foto close-up si bupati.

9. Jangan menginterogasi; anda bukan polisi.

Tugas wartawan sebatas memberitahu publik apa yang terjadi. Maka jangan memosisikan diri sebagai interogator, jaksa, atau hakim ketika mewawancarai narasumber. Di Balige ada seorang wartawan tua yang terkenal dengan pertanyaannya yang tajam, bahkan sering sampai terkesan kasar. Tapi dia cuma menjadi pejantan tangguh ketika wawancara; kebanyakan hasil wawancara dan liputannya tidak pernah ditulis. Menggertak biar dikasih amplop?

Pakailah bahasa yang santun. Kritis tidak berarti harus kasar. Lebih baik kita terlihat bodoh di depan narasumber daripada konyol di mata pembaca.

Masih di Balige, ada seorang jurnalis muda yang bekerja di sebuah koran Medan beroplah besar, yang dalam wawancara malah lebih sering menyampaikan pernyataan berupa pujian kepada narasumber — bukan pertanyaan. Menjilat biar dikasih amplop?

10. Senjata wartawan yang paling ampuh adalah bertanya.

Amunisi paling tajam adalah kata-tanya “mengapa”. Aku menyadari itu setelah membaca sebuah puisi terjemahan berjudul Jangan pernah membunuh pertanyaan.

11. Akhirnya …, bagaimana dengan amplop?

Jangan pernah meminta. Kalau diberikan, dan anda yakin obyektivitas anda menulis tidak terganggu, terima saja. Tapi kalau amplop itu memengaruhi anda menulis, sebaiknya tunda untuk menerima. Setelah berita terbit dan narasumber anda tetap ingin memberikan, itulah momen yang tepat untuk anda menerima.

Aku pernah mengembalikan uang dari seorang sumber karena dia kecewa berita yang kutulis tidak persis seperti keinginannya. Dia agak marah. Kemudian hari aku tahu, dia sudah terbiasa “memesan berita” kepada wartawan koran lain.

Sikapku ini menjadi “trademark”-ku di kalangan narasumber dan wartawan Balige: bahwa sekalipun Jarar diberi uang, ia tetap akan menulis sekehendak perutnya.

Cara itu aku terapkan selama ini. Kecuali ketika masih aktif di AJI, sama sekali — secara total, dengan alasan apapun — aku menolak amplop. Dan itu sempat membuatku dan anak-istriku menderita — dalam arti sesungguhnya.

“Jarar sudah ‘bertobat’ …,” begitu Pemred Metro Tapanuli, Goldian Purba — yang pernah redpel di Manado Post — menyimpulkan sikapku dalam sebuah rapat di Siantar. [www.blogberita.com]

Tulisan terakhir dari tiga bagian ini kusarikan dari draf buku yang tak jadi kuterbitkan. Kalau menurut anda apa yang kutulis benar, silakan dicoba. Tapi kalau anda ragu atau tak sependapat, jangan sesekali menerapkannya; dan teruslah bekerja dengan cara dan gaya anda sendiri.

Sebab, aku setuju, setiap jurnalis memang sebaiknya memiliki standarnya sendiri-sendiri.

Catatan: aku setuju wartawan menerima amplop hanya jika gajinya kecil dan dia yakin amplop tersebut tidak akan memengaruhinya menulis. Tapi jika gaji wartawan sudah layak, aku tidak sependapat jika masih menerima amplop. Alasan-alasanku yang lebih mendalam dan perdebatan seru soal amplop bisa anda baca pada sejumlah tulisan di blog ini; klik ARSIP BATAK NEWS.
sumber : www.blogberita.com