Techno Write
Analisa Sosial
Tempat : pasar minggu
Waktu : 07.30-10.00
Tgl : 12 desember 2010
Dari pengalaman dan observasi di pasar minggu , dapat diolihat beberapa hal menarik untuk dibicarakan. Hal itu antara lain:
- Kurangnya tempat sampah
- Banyaknya pengemis
- Musim kaos irfan bachdim
- Banyaknya pengunjung yang sekedar jalan-jalan
- Banyak muda-mudi berpasangan
Tapi diantara sekian banyak hal menarik tersebut, yang paling menarik menurut saya adalah tampilnya kesenian topeng monyet diantara keramaian pengunjung dan stan-stan yang ada. Kesenian ini dapat dilihat dari sudut ke sudut walaupun hanya ada satu itu aja, karena atraksi kesenian ini memang berpindah-pindah di dalam pasar minggu tersebut. Dimana ada tempat yang kosong, maka atraksi topeng monyet dilakukan.
Adanya kesenian topeng monyet ditengah keramaian ini menarik untuk dibahas karena memang keberadaan topeng monyet ini juga semakin langka. Hal itu diperkuat juga dengan bukti bahwa atraksi topeng monyet ini hanya ada satu diantara sekian banyak pedagang dan pengunjung lainnya. Tidak seperti pengemis, pengamen maupun pedagang ilegal (tanpa stan) yang jauh lebih banyak.
Semakin minimnya keberadaan topeng monyet mungkin disebabkan semakin tergesernya kesenian tradisional dengan kesenian modern, seperti film, band, tarian modern dll. Hal itu terbukti dengan semakin banyaknya band band baru yang muncul, semakin ramainya bisnis perfilman dan semakin banyaknya minat pada tarian modern. Stan-stan yang menjual poster-poster film dan band serta stan penjual kaset tampak jauh lebih ramai dibanding penonton topeng monyet. Ini karena pengunjung lebih berminat untuk mencari sesuatu yang identik dengan band, film idolanya. Sedangkan topeng monyet hanya dipandang sebagai pertunjukkan yang monooton dan ketinggalan zaman.
Hal lain yang mungkin menyebabkan topeng monyet semakin langka yaitu berkaitan dengan ekonomi. Bisa ditebak berapa penghasilan topeng monyet. Dengan peminat yang semakin sedikit, pastilah hasil yang didapat juga sangat minim. Belum lagi, para penonton juga mayoritas hanya memberi dalam modal yang kecil (receh). Hasil yang minim itu tentu tidak sebanding dengan lelahnya berkeliling sambil membawa alat-alat, biaya perawatan monyet, serta tidak cukup untuk mengimbangi atau memenuhi kebutuhan sehari-hari dari pemilik atraksi dan keluarganya. Apa lagi harga-harga kebutuhan hidup juga semakin melonjak dan sulit dijangkau kalangan bawah.
Penyebab lain yang mengakibatkan kesenian topeng monyet semakin langka dan kurang peminatnya juga dikarenakan kurangnya ada inovasi dari para pelakunya. Atraksi topeng monyet sejak dulu hingga sekarang hanya terpatok pada atraksi yang itu-itu saja. Hanya sekedar mengandalkan ketangkasan monyetnya, tetapi tampilan luar dari peralatannya kurang menarik. Atraksi yang ditampilkan, sangat umum dilihat seperti monyet naik sepeda, monyet salto, dll. Hal-hal itu dianggap monoton dan kurang kreatif sehingga penghargaan para penonton juga sangat minim dikarenakan kurang puasnya penonton.
Alasan yang terakhir mengapa topeng monyet menjadi langka, terutama di pasar minggu dikarenakan tempat tersebut tampaknya memang lebih spesifik ke bidang perdagangan. Pasar minggu m emang menjadi alternatif bagi pedagang, baik pedagang makanan dan pernak pernik lain, dengan mendirikan stan-stan didalamnya. Tetapi hal itu juga menunjukkan bahwa pemerintah kurang memperhatikan kesenian tradisional. Pemerintah lebih mengutamakan kepentingan dibidang perdagangan yang dianggap lebih bermanfaat bagi perekonomian daerah. Sehingga kesenian tradisional yang ada tidak memiliki sarana untuk tetap eksis. Kesenian seperti topeng monyet menjadi terlupakan oleh pemerintah.
Seandainya pemerintah memberi peluang bagi para seniman terutama kesenian tradisional seperti topeng monyet, keberadaan kesenian-kesenian seperti ini pasti tidak akan selangka sekarang. Topeng monyet dipandang sebelah mata oleh masyarakat karena pemerintah sendiri juga seakan-akan lupa akan adanya kesenian pinggiran seperti itu. Padahal, topeng monyet itu menyajikan ide yang bagus, yaitu menyajikan hiburan yang tidak umum dengan memanfaatkan ketangkasan seekor monyet. Topeng monyet tidak kalah dengan sirkus, hanya skalanya lebih kecil. Topeng monyet juga bisa jadi hiburan bagi semua kalangan. Sampai saat ini, masih banyak anak kecil yang menyukai dan menjadi penonton mayoritas. Sehingga topeng monyet juga bisa menjadi pendidikan bagi anak-anak. Merka jadi tahu tentang mahkluk hidup lain (monyet) dan mengetahui kesenian tradisional yang ada di indonesia. Intinya, topeng monyet dan kesenian tradisional lainnya sebenarnya memiliki potensi. Hanya dari pemerintah saja yang tidak bisa mengoptimalkan, dan para seniman itu sendiri yang kurang berinovasi, serta dari masyarakat sendiri yang terlalu memandang rendah adanya kesenian topeng monyet.
